MENANGIS

September 26th, 2007 by amordewi

Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran.

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: "Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam" (QS. Al Muthaffifin: 6).
Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis.Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo’a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo’a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini.

Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga lembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: "Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)". (QS. Al Maidah: 83).

Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka". (QS. An Nisa‘: 145)

Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo’a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah.

Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. "Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan". (QS At Taubah: 82).

Penerbangan Terkenal

July 15th, 2007 by amordewi

Adam Air, Lion Air, Air Asia ternyata merupakan pendatang baru dibandingkan dg airline dibawah ini.

Kejadian ini dialami teman saya waktu tinggal di Denpasar bersama ortunya.

Pada suatu hari ketika kami sedang duduk duduk di warung jamu, sepasang Bule datang ke warung yang kelihatan meriah dari jauh. Bule kucel dengan ransel di punggung itu melangkah dengan penuh percaya diri menuju ke halaman warung jamu. Dalam hati saya bangga juga jamu tradisionil kita sudah dikenal dimancanegara. Buktinya si Bule pun mau mengunjungi warung jamu di Indonesia .

Makin dekat ke warung, langkah Bule tersebut kelihatan makin raguragu, namun tetap saja mendekati kami. Setelah dekat, salah seorangBule tersebut bertanya kepada kami dalam bahasa Inggris dengan wajah agak ragu, "Do you have a direct flight to Jogja for tomorrow..?"

Gantian kami yang bengong sambil saling berpandangan penuh tanda tanya. Bukannya kami nggak tahu bahasa Inggris lho..! Cuman tanya ticket pesawat kok di Warung Jamu.

Karena agak lama kami saling berpandangan tanda bingung, sekali lagi si Bule bertanya lagi, "Air Mancur is a domestic flight, isn’t it..?"

Mutiara Kata

July 12th, 2007 by amordewi

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan.
Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup,
sehingga tidak melihat pintu yang lain yang dibukakan bagi kita.

Dalam hidup terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia.

Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke
tempat-tempat kamu ingin pergi.
Jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu
kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

Masa depan yang cerah berdasarkan masa lalu yang telah dilupakan.
Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati.

Dunia ibarat lautan yang luas. Kita adalah kapal yang berlayar di
lautan yang telah banyak kapal karam di dalamnya.
Andai muatan kita adalah iman, dan layarnya takwa, niscaya kita akan
selamat dari tersesat di dalam lautan hidup ini.
Sampan kita ialah takwa, muatannya iman, dan layar adalah
tawakal.[rev. serv]

Dalam masyarakat manusia ada binatang jalang, tetapi dalam masyarakat binatang tidak ada satupun manusia jalang.

Waktu kita lahir, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita
tersenyum.
Jalanilah hidup kita sehingga pada waktu kita meninggal, kita
tersenyum dan orang-orang di sekeliling kita menangis.

Tanda-tanda orang yang budiman adalah dia akan merasa gembira jika dapat berbuat kebaikan kepada orang lain dan dia akan merasa malu apabila menerima kebaikan dari orang lain.

Kata-kata itu sebenarnya tidak mempunyai makna untuk menjelaskan perasaan.
Manusia boleh membuat seribu kata-kata, seribu bahasa.
Tapi kata-kata bukan bukti unggulnya perasaan.

Akal itu menteri yang menasehati.
Hati itu adalah raja yang menentukan.
Harta itu satu tamu yang akan berangkat.
Kesenangan itu masa yang ditinggalkan.

Orang yang bahagia itu akan selalu:
Menyediakan waktu untuk membaca, karena membaca itu sumber Hikmah.
Menyediakan waktu tertawa, karena tertawa itu musiknya.
Menyediakan waktu untuk berfikir, karena berfikir itu pangkal kemajuan.
Menyediakan waktu untuk beramal mulia, karena beramal itu pangkal
kejayaan.
Menyediakan waktu untuk bercanda, karena bercanda itu akan membuat muda selalu.
Menyediakan waktu untuk beribadah, karena beribadah adalah ibu dari segala ketenangan jiwa.

By. servoman@myquran. org (edited)
From. Milis Cinta Rasul ( Maha Suci Allah ) @ yahoo.com

Matematika Gaji dan Logika Sedekah

July 9th, 2007 by amordewi

Oleh A. Muttaqin

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang
diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan.
Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun. Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk
membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan
matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana
apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada
dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."

"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"

"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang
pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun
sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa
cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."

"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa
sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah
keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita
punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"

"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan. "Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut
pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana
jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar
Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di
akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi.
Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

"Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?".

"Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan
keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga,
lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir,
padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur". Saya semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya
habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil
selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang
lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang
dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

***

Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur’an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir
benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus
biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)

Reff : Oase Iman Eramuslim

Regards,

Achdi Supratman

Marketing Officer

Bagaimana Bunyi Bisa Membunuh

June 30th, 2007 by amordewi

Shayhah, Bunyi Yang Menderu dan Mendera

WatTiyni wazZaytuwni. WaThuwri Siyniyna. WaHadza lBaladi lAmiyna (S. At Tiyn, 1-3) Perhatikanlah ara, perhatikanlah zaitun! Perhatikanlah gunung Sina! Perhatikanlah negeri yang aman ini! (95:1 3).

Pohon Ara memperlambangkan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa AS dan gunung Sina(i) adalah tempat mula-mula Nabi Musa AS
menerima wahyu.

Zaitun memperlambangkan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan negeri yang aman yaitu al Makkah al Mukarramah adalah tempat mula-mula Nabi Muhammad SAW menerima wahyu.
Gunung Sina(i) terletak di semenanjung Sina(i) dan negeri yang aman terletak di semenanjung Arabia.

Di semenanjung Sina(i) dahulu kala bermukim bangsa Madyan. Bangsa ini adalah turunan Madyan (bukan nabi) anak ketiga Nabi Ibrahim AS dari
isterinya yang ketiga Sitti Katurah. Kepada bangsa Madyan tersebut diutuslah oleh Allah SWT Nabi Syu’aib AS, yaitu mertua Nabi Musa AS.
Waktu dijadikan menantu, Musa belum diangkat Allah menjadi nabi.

Nabi Syu’aib AS memperingatkan bangsa Madyan: YaQawmi ‘Buduw Llaha Ma-laKum min Ilahin Ghayruhu waLa- Tanqushuw lMikya-la walMiyza-na (S.
Huwd, 84), Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagimu Tuhan selain daripadaNya dan janganlah kamu mengurangi sukatan dan timbangan (11:84).

Bangsa Madyan kepala batu, tidak mau mendengarkan peringatan Nabi Syu’aib AS, bahkan mereka mengancam Nabi Syu’aib AS: waLaw La-Rahthuka Larajamnaka waMa- Anta ‘Alayna- bi’Aziyzin (S.Huwd, 91), dan sekiranya bukan karena keluargamu, kami niscaya merajammu, engkau itu
tidaklah berkuasa atas kami (11:91). Karena itu Allah menghukum kaum Madyan tersebut.

waAkhadzati Lladziyna Zhalamuw shShayhatu faAshbahuw fiy Diya-rihim Jatsimiyna (S. Huwd, 94), lalu orang-orang zalim itu disambar bunyi
menderu, maka mereka mati tersungkur di dalam rumahnya (11:94).

Peringatan itu patut pula kita perhatikan dewasa ini, jangan menyembah apa saja selain Allah, jangan curang dalam sukatan (volume) dan timbangan (berat). Dewasa ini sudah berbilang yang menyembah berhala tradisional dan berhala modern. Berhala tradisional adalah patung-patung berhala, saukang, sedangkan berhala modern adalah otak manusia.

Sikap sekuler, sikap yang semata-mata menghandalkan otak,
sikap yang melecehkan kaidah agama yang bersumber dari wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada para Nabi, adalah penyembah berhala modern.
Curang dalam sukatan dan timbangan berarti tidak berlaku adil, baik
itu dalam hal sukatan dan timbangan yang sebenarnya (baca: aktivitas
berekonomi), maupun itu dalam sukatan dan timbangan dalam arti kiasan (baca: aktivitas berpemerintahan dan berpengadilan).

***

Telah berlalu bangsa Madyan yang dihukum Allah dengan Shayhah, bunyi yang mendesah, menderu, melengking, teriakan, cry, kreet.

Shayhah adalah Ayat Kawniyah, sehingga untuk dapat mengetahui dengan baik shayhah ini, kita perlu mengkaji Ayat Kawniyah mengenai bunyi.

Bunyi itu adalah gelombang udara yang dapat ditangkap oleh pancaindera kita melalui selaput genderang telinga yang bergetar.

Getaran itu diubah oleh mekanisme dalam tubuh kita menjadi pulsa, kejutan listrik, kemudian diteruskan ke otak oleh sel-sel saraf. Sel-sel saraf tidak bersentuhan. Pulsa itu diteruskan dari sel ke sel melalui larutanelektrolit. Sel-sel saraf dan larutan elektrolit membentuk jaringanelektrik di dalam tubuh kita. Di otak oleh kesadaran kita, berkat adanya ruh dalam diri kita, pulsa atau kejutan listrik itu diolah
sehingga kita (baca: ruh) mendengar bunyi yang berasal dari gelombang udara itu.

Tidak semua gelombang udara dapat kita dengar. Gelombang udara yang bilangan getarnya tinggi di atas normal, ataupun yang bilangan getarnya rendah di bawah normal tidak dapat kita dengar.

Bagaimana shayhah itu dapat membunuh manusia, sehingga jatuh
tersungkur, bahkan meretakkan bangunan, sampai merobohkannya?

Pada tahun 1964 di kota Marseille dibangunlah sebuah gedung untuk
penelitian elektroakustik. Lembaga penelitian itu dipimpin oleh Prof.
Vladimir Gavreau. Hanya beberapa hari para pakar peneliti itu bekerja dalam gedung itu diserang sakit kepala. Yang
dijadikan kambing hitam dalam penyebab sakit kepala itu adalah sinar yang tak terkontrol dalam laboratorum itu.

Akan tetapi setelah disidik, diteliti dengan saksama, tidak ada sama sekali sinar yang berdosa yang tak terkontrol itu. Tuduhan terhadap sinar tak terkontrol itu dicabut kembali, berita acara pemeriksan dibatalkan.

Ternyata tersangka baru dapat diungkap. Penyebabnya
berasal dari ventilasi yang menyebabkan gelombang udara yang
berfrekuensi rendah, yang menyebabkan seluruh gedung beresonansi, ikut bergetar dalam wujud infra-bunyi, bunyi yang tak kedengaran.

Mulailah diadakan penelitian infra-bunyi oleh tim peneliti dari
laboratorium elektroakustik itu. Hasilnya, dibuatlah di lab
elektroakustik di Marseille itu meriam bunyi, yang merupakan meriam bunyi yang mula-pertama di dunia ini. Meriam bunyi itu sangat sederhana.

Pada sebuah lubang ventilasi dipasang 61 pipa yang ke
dalamnya ditiupkan udara kempa, sehingga menghasilkan gelombang udara dengan getaran 196 Hertz, yaitu batas terendah dari bunyi yang dapat didengar. Akibatnya luar biasa, dinding bangunan yang masih baru itu retak, sedangkan para personel laboratorium di dalamnya gemetar diserang nyeri tak terkira.

Meriam bunyi itu dilanjutkan dengan output frekuensi 37 Hertz. Namun tidaklah sepenuhnya diuji-coba karena orang khawatir dapat merusak gedung-gedung dalam ruang lingkar beberapa kilometer sekitar gedung laboratorium itu.

Mungkin ada benarnya dalam cerita silat ada tiupan suling, petikan
kecapi, bunyi tertawa dapat mengakibatkan darah keluar dari telinga
ataupun mulut yang mendengarnya, yaitu apabila tiupan suling, petikan kecapi, bunyi tertawa, menghasilkan gelombang udara dengan frekuensi 196 Hertz, yaitu batas terendah dari bunyi yang dapat didengar, ataupun dengan frekuensi di bawah 196 Hertz yang berwujud infra-bunyi.

Dari hasil kajian Ayat Kawniyah, dapatlah kita mengerti dengan jelas
Ayat Qawliyah dalam hubungannya orang-orang mati tersungkur dalam
rumahnya yang dihukum oleh Allah dengan mengirim shayhah kepada mereka
itu.

Hukuman Allah melalui shayhah atas kaum yang melecehkan para Nabi
dapat kita baca dalam sebelas ayat yang berikut: 11:67, 11:94, 15:73,
15:83, 23:41, 29:40, 36:29, 36:49, 36:53, 38:15, 50:42, 54:31, dan
63:4. WaLlahu A’lamu bi shShawab.

    [H.Muh.Nur Abdurrahman]

Mata Kuliah dari Seorang Pemulung

June 30th, 2007 by amordewi

http://www.eramusli m.com/atc/ oim/45c83870. htm

Oleh Sus Woyo

Hujan rintik-rintik tiba-tiba mengguyur kawasan kampus di kota saya. Saya bergegas masuk ke sebuah warung bubur langganan para mahasiswa di depan fakultas teknik sebuah PTN. Di sudut warung tersebut, seorang lelaki berkumis sedang begitu santai menikmati segelas kopi dan sebatang rokok kretek. Saya duduk tak begitu jauh darinya.

Ketika hujan mulai lebat, laki-laki itu memarkir sepeda untanya lebih dekat ke warung tersebut, agar tumpukan kardus dan kantong semen tidak basah. Setelah sebelumnya dengan amat sopan dia meminta izin kepada si pemilik warung bubur.

Ia memperkenalkan dirinya kepada saya sebagai seorang pemulung, dan di samping menjadi tukang pemungut barang-barang bekas, ia kadang juga memanfaatkan sedikit keahliannya sebagai seorang pemijat. Ia bercerita panjang lebar tentang sejarah hidupnya.
“Mas, ” katanya kepada saya. “Beberapa waktu lalu, saya ini ditawari suatu pekerjaan dengan gaji sehari empat ratus ribu rupiah, diberi fasilitas motor baru, handphone sekaligus pulsanya sekalian. Tapi saya menolak pekerjaan itu.”

Saya sempat terbelalak mendengar penuturannya. Dengan perasaan yang masih heran, saya mencoba bertanya lagi. “Pekerjaan seperti apakah itu pak, kok begitu menggiurkan dan bapak sendiri menolaknya.”

“Kurir sabu-sabu, ” jawabnya bersemangat. “Lebih baik usus saya nempel di perut karena lapar daripada harus menjadi bagian dari pekerjaan haram. Saya lebih mulia menjadi seorang pemungut kardus dan kantong semen daripada ke empat anak saya makan barang tidak halal.”

Saya makin serius mendengarkan kalimat-kalimat indah yang meluncur dari sosok yang amat sederhana ini. Ia juga bercerita panjang lebar tentang situasi dan kondisi kontemporer. Tak ketinggalan ia juga bicara soal musibah yang seolah tak kan pernah berhenti mengguncang negeri ini.

Sekali-sekali terdengar juga ia mengkritisi tingkah polah manusia pada umumnya. Tak hanya pemimpin, dan kaum cerdik pandai yang ia kritisi, tapi rakyat jelata seperti kamipun tak lepas dari kritikannya.

Ia tampak menyesal sekali ketika melihat di ibukota negara, -yang kata dia- adalah tempat berkumpulnya orang-orang pinter, orang-orang yang gelar akademiknya sampai satu meter, tapi kenapa dalam menangani flu burung saja, mesti unggasnya yang dibantai?
Ia mengajak kami untuk mempelajari hadits Nabi tentang lalat yang beracun. “Ketika lalat itu masuk ke dalam minuman, dan hanya satu sayapnya saja yang tenggelam, maka Nabi memerintahkan agar meneggelamkan sayap yang satunya lagi. Sebab di sayap yang satu itu ada penawar racun.” Ujarnya bersemangat.

“Barangkali, dalam tubuh unggas itu justru ada penawar untuk flu burung.” Tambahnya, sambil menghimbau para pakar kesehatan dan peternakan untuk lebih intensif lagi meneliti tentang hal ini.

“Lantas, ” tanya saya. “Menurut bapak, solusi apakah yang paling tepat untuk mengatasi negri yang makin hari makin parah ini.”

“Tak ada lain Mas, kecuali kita harus cepat-cepat bertaubat kepada-Nya. Kita harus membuka kembali kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada kita.”

Saya hanya tersenyum sambil melihat wajah bersih laki-laki yang seolah begitu nikmat menjalani hidup ini, walaupun hanya berkendaraan sepeda unta yang tua dan pekerjaannya hanya menjadi tukang pungut kardus dan kantong semen.

Saya, pemilik warung bubur yang asli Kuningan, dan seorang mahasiswa yang sedang melahap bubur, terangguk-angguk diberi mata kuliah dari seorang pemulung sederhana itu. Saya sebenarnya ingin lebih lama lagi berbincang dengan dia, sayang waktu makin merambat sore. Saya makin rindu saja dengan sosok sederhana yang ternyata sarat ilmu kehidupan itu.

***

Purwokerto, Feb 2007

WATTS AND KNOTTS

June 30th, 2007 by amordewi

KNOTT: "Who’s calling?" was the answer to the telephone.
WATT: "Watt."
KNOTT: "What is your name, please?"
WATT: "Watt’s my name."
KNOTT: "That’s what I asked you. What’s your name?"
WATT: "That’s what I told you. Watt’s my name."

A long pause, and then from Watt,
WATT: "Is this James Brown?"
KNOTT: "No, this is Knott."
WATT: "Please tell me your name."
KNOTT: "Will Knott."

YOU LEFT THE TALKERS AT A POINT WHERE THEY WERE TOTALLY CONFUSED,
READ THE REST OF WHAT HAPPENED…

WATT: "Why not?"
KNOTT: "Huh? What do you mean why not?"
WATT: "Yeah! Why won’t you tell me your name?"
KNOTT: "But I told you my name!"
WATT: "Didn’t you say you will not?"
KNOTT: "Not not, knott, Will Knott!"
WATT: "That’s what I mean."
KNOTT: "So you know my name."
WATT: "Of course not!"
KNOTT: "Good. So now, what is yours?"
WATT: "Watt. Yours?"
KNOTT: "Your name!"
WATT: "Watt’s my name."
KNOTT: "How the hell do I know? I am asking you!"
WATT: "Look I have been very patient and I have told you my name and
you
have not even told me yours yet."
KNOTT: "You have been patient, what about me? I have told you my name
so many times and it is you who have not told me yours yet.
WATT: Of course not!"
KNOTT: "See, you even know my name!"
WATT: "Of course not!"
KNOTT: "Then why do you keep saying of course Knott?"
WATT: "Because I don’t."

[Pause]
KNOTT: "What is your name?"
WATT: "See, you know my name!"
KNOTT: "Of course not!"
WATT: "Then why do you keep asking Watt is your name?"
KNOTT: "To find out your name!"
WATT: "But you already know it!"
KNOTT: "What?"
WATT: "See!"
KNOTT: "And you know mine!"
WATT: "Of course not!"
KNOTT: "Exactly!"

NOW THEY ARE AT A POINT WHERE BOTH THINK THE OTHER KNOWS THEIR NAME,
BUT THEY THEMSELVES DON’T KNOW THE OTHER’S NAME.

KNOTT: "Listen, listen, wait; if I asked you what your name is, what
will be your answer?"
WATT: "Watt’s my name."
KNOTT: "No, no, give me only one word."
WATT: "Watt"
KNOTT: "Your name!"
WATT: "Right!"

[pause before it hits him]
KNOTT: "Oh, Wright!"
WATT: "Yeah!"
KNOTT: "So why didn’t you say it before?"
WATT: "I told you so many times!"
KNOTT: "You never said Wright before"
WATT: "Of course I did."
KNOTT: "Ok I won’t argue any more. Do you know my name?"
WATT: "I do not."
KNOTT: "Well, there you go, now we know each other’s name."
WATT: "I do not!"
KNOTT: "Good!"

[pause before it hits him]
WATT: "Oh, Guud!"
KNOTT: "Good."
WATT: "No wonder, it took me so long, is that Dutch?"
KNOTT: "No, it’s Knott!"
WATT: "Oh, okay. At least the names are clear now Guud."
KNOTT: "Yes Wright."

NOW THEY BOTH THINK THEY KNOW EACH OTHER’S NAME AS WELL!
Watt do you think ?? Do they or do they Knott ???

Penerbangan Gratis On Line 24 Jam

June 30th, 2007 by amordewi

INFORMASI PENERBANGAN GRATIS
AL-JENAZAH AIRLINES LAYANAN PENUH 24 JAM

Bila kita akan ‘berangkat" dari alam ini ia
ibarat penerbangan ke sebuah negara.

Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam
brosur penerbangan, tetapi melalui Al-Qur’an dan
Al-Hadist.

Dimana penerbangan bukannya dengan Garuda
Airlines, Singapore Airlines, atau American
Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.

Dimana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg,
tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang.

Dimana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau
setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih.

Dimana pewanginya bukan Channel atau Polo,
tetapi air biasa yang suci.

Dimana passport kita bukan Indonesia , British
atau American, tetapi Al-Islam.

Dimana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan,
tetapi ‘Laailaahaillallah’

Dimana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi
Izrail dan lain-lain.

Dimana servisnya bukan lagi kelas business atau
ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan.

Dimana tujuan mendarat bukannya Bandara
Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah
International, tetapi tanah pekuburan.

Dimana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber
AC dan permadani, tetapi ruang 2×1 meter, gelap
gulita.

Dimana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir, mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan.

Dimana tidak perlu satpam dan alat detector.

Dimana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah

Dimana tujuan terakhir apakah Syurga yang
mengalir sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam.

Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom,
karena itu tak perlu bimbang.

Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu
tidak perlu merisaukan masalah alergi atau halal
haram makanan.

Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan
ini senantiasa tepat waktunya, ia berangkat dan tiba
tepat pada masanya.

Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan, anda telah hilang selera bersuka ria.Jangan bimbang tentang pembelian tiket, ianya telah siap di booking sejak anda ditiupkan ruh di
dalam rahim ibu.

YA! BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang
duduk di sebelah anda.

Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan
ini.

Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan
sekiranya anda bisa!

Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa
‘Pemberitahuan’ .

Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis
dalam tiket untuk Penerbangan. …

Saat penerbangan anda berangkat… tanpa doa
Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah, atau ungkapan
selamat jalan.

Tetapi Innalillaahi Wa Inna ilaihi Raaji’uun… .

Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.

ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?

‘Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat
kematian. Karena dengan kecerdasannya dia akan
mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya. ASTAGHFIRULLAH 3X, semoga ALLAH SWT mengampuni
kita beserta keluarga… Amiin WALLAHU A’LAM

Catatan:

Penerbangan ini berlaku untuk segala
umur…tanpa kecuali, maka perbekalan lebih baik
dipersiapkan sejak dini…..sangat tidak bijak dan
tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan
perbekalannya.

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT

Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:

1. Keluarga

2. Hartanya

3. Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal
Bersamanya yaitu;

1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali

2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan
Jasad…Terdengarla h Suara Dari Langit Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..

Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau
Dunia Yang Meninggalkanmu

Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu

Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia
Yang Telah Menumpukmu

Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia
Yang Telah Menguburmu."

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan.. ..
Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan
Anak Si Fulan…

Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini
Terkulai Lemah

Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini
Bungkam Tak Bersuara

Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa
Kini Tuli Dari Seribu Bahasa

Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia,
Mengapa Kini Raib Tak Bersuara."

Ketika Mayat Siap Dikafan…Suara Dari Langit Terdengar Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan

Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan
Ridha

Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka
Allah ."

"Wahai Fulan Anak SiFulan…Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya

Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang
Penuh Pertanyaan."

Ketika Mayat Diusung…. Terdengar Dari Langit
Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..

Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan

Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat

Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan
Taat."

Ketika Mayat Siap Dishalatkan. …Terdengar Dari
Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..

Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau
Lihat Hasilnya Di Akhirat

Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik

Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang
Lahat….terdengar Suara Memekik Dari Langit, "Wahai
Fulan Anak Si Fulan…

Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang
Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap
Gulita Di Sini Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis

Dahulu Kau Bergembira, Kini Dalam Perutku Kau
Berduka

Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau
Bungkam Seribu Bahasa."

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya
Sendirian… . Allah Berkata Kepadanya, "Wahai
Hamba-Ku…. .

Kini Kau Tinggal Seorang Diri

Tiada Teman Dan Tiada Kerabat

Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..

Mereka Pergi Meninggalkanmu. . Seorang Diri

Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar
Perintahku

Hari Ini,….

Akan Kutunjukan Kepadamu

Kasih Sayang-Ku

Yang Akan Takjub Seisi Alam

Aku Akan Menyayangimu

Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada
Anaknya".

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman,
"Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu

Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya

Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba- Ku

Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"

Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam menjalani hidup ini.

Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk
senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah
hadithnya yang lain, beliau bersabda "wakafa bi
almauti wa’idha", artinya, cukuplah mati itu akan
menjadi pelajaran bagimu!
Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin….Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja…

Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan
merenungkan pesan ini…

Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih
untuk mendapatkan kesempatan membaca artikel ini.

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri
konsentrasi kita. kita seolah lupa dengan sesuatu
yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya.
Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat
menakutkan.Tahukah kita kapan kematian akan
menjemput kita???

Salam,

Marhaban Ya Ramadhan

September 17th, 2006 by amordewi

Assalammu’alaikum Wr. Wr

Marhaban Ya ramadhan
Tak terasa sebentar lagi ramadhan akan datang
sudah 1 tahun berlalu sejak ramadhan yg kemaren
Oh apa yg sudah aku lakukan selama ini
Mungkin lebih banyak dosa yang kulakukan daripada kebaikan
Semoga Allah mengampuni segala kesalahanku
Semoga ramadhan kali ini lebih baik

Marhaban Ya Ramadhan
Buat teman-temanku semua
Aku minta maaf
Mungkin ada salah kata
Yang mungkin tak kusengaja ataupun disengaja
Mari kita hadapi bulan ramadhan
dengan hati yang bersih

Selamat menunaikan ibadah puasa
Bagi yang menjalankannya.
Marhaban Ya Ramadhan

Kisah Si Kan dan Si Kir

June 14th, 2006 by amordewi

Sebuah kerajaan Anatomi adalah sebuah kerjaan makmur dimana
raja dan rakyat adalah satu kesatuan utuh. Kerjaan ini dipimpin seorang
raja bernama Baginda Otak, kemudian seorang bijaksana yang selalu
mendampingi baginda adalah penasehat raja Pak Hati.

Suatu hari si Kir (tangan kiri) sedang dilanda musibah, sehingga tanganya
putus terkena mesin potong kertas. Begitulah pada saat kerajaan Anatomi
kebelakang untuk pup, si Kir merasa tak berdaya dan meminta tolong kepada
Si Kan untuk menggantikan tugas nya "membersihkan".

"Ih, menjijikan tugasmu ini Kir" si Kan sambil melakukan
"tugas" nya.
"Yah, gimana lagi memang sudah suratan takdir…" jawab si Kir
sambil menarik nafas panjang.  Walaupun agak ribet, tapi selesai
juga tugas si Kan ini. Selama hapir seminggu si Kan akhirnya harus
melakukan semua tugan Si Kir. Di hari ke delapan Si Kan mengadukan hal
ini pada penasehat raja Pak hati, seperti biasa, Pak Hati memberikan
pencerahan,

"Begitulah Kan, kita bisa menghargai orang, merasakan betapa rindu
kita, betapa kehilangan kita, jika orang itu sudah hilang dari kehidupan
kita. Padahal pada saat masih bersama, jarang sekali kita menghargai,
menyayangi dan memberikan kasih sayang kita kepadanya. Begitulah Kan,
Betapa kita harus mensyukuri apapun yang kita miliki saat ini, karena
semua itu fana Kan, semua itu bisa dengan tiba tiba direnggut oleh Sang
Pemilik Segala Sesuatu. Sayangilah, kasihilah, hargailah karena kamu tak
akan tahu sampai kapan kamu akan bersama mereka yang kamu
kasihi…"

Si Kan hanya tertunduk malu, masih jelas diingatannya betapa seringnya
dia mencemooh si Kir karena semua tugasnya adalah lebih buruk, Selama ini
Kan selalu menganggap bahwa dia lebih baik dari Kir. Padahal Kir pun
ternyata melakukan tugas waalupun menjijikan, tapi dia melakukannya
dengan ikhlas dan penuh syukur. Sadarlah Kan, bahwa semua pekerjaan
adalah mulia jika didasari oleh keikhlasan. Sadarlah Kan bahwa begitu
berharga dan berartinya Kir untuk dirinya…

Betapa sering kita menyiakan apa yang ada didepan kita, berapa kali kita
menyakiti orang tersayang, yang mungkin besok, lusa atau kapan akan
diambil Oleh Sang Pemilik Segala Sesuatu…

Jangan tunggu sampai mereka "pergi", cintailah, kasihilah,
sayangilah sepenuh hati, apapun yang engkau miliki saat ini, saat
semuanya masih dalam pelukan, masih dalam genggaman… Jangan nanti, tapi
sekarang….